Jumat, 26 Februari 2010

TARI KLASIK GAYA YOGYAKARTA




Tari klasik gaya yogyakrta juga disebut Joged Mataraman merupakan gaya tarian yang dikembangkan oleh Sri sultan Hamengku Buwono I semenjak perjanjian Giyanti. Oleh karena beliau sangat mencintai kesenian, selain berjuang melawan penjajahan Sri sultan HB I yang bergelar Pangeran Mangkubumi sudah mengarahkan perhatiannya pada kesenian dengan orientasi kekesatriaan.

Setelah perjanjian Giyanti, Sri Susuhunan Paku Buwono III menganjurkan Sri Sultan HB I untuk melanjutkan mengembangkan Joged Mataraman karena di Surakarta sendiri akan menciptakan gaya tari sendiri yang baru. Orientasi patriototik yang dikembangkan Sri sultan dlm Joged Mataraman membuat suatu karakteristik baru yang spesifik yaitu lugas, kenceng (kuat), dan serius. Orientasi ini sungguh kuat karena penari-peanri saat itu adalah para prajurit yang Nampak sangat disiplin. Tari-tari pertama Sri Sultan HB I pun menggambarkan sifat keprajuritan, seperti Beksan Lawung.

Selain itu Sultan juga melestarikan tarian-tarian sakral putri, yaitu Bedhoyo Semang yang diciptakan oleh Sultan Agung, dan Srimpi Renggowati. Untuk lebih menanamkan nilai kesatriaan, Sultan HB I juga mengembangkan wayang wong (orang) dengan harapan sifat-sifat kesatriaan dapat ditampilkan melalui media ini kepada para prajurit dan masyarakat.
Saat itu pakaian wayang wong amat sederhana yaitu untuk putra diambil dari kostum keprajuritan sedangkan untuk putri menggunakan jamang dan gelung bokor. Semua pemain berkostum seperti itu sehingga penjiwaan harus dituntut lebih kuat agar dapat membedakan masing-masing tokoh yang dimainkan.

PEMAHAMAN FILOSOFIS
Tari klasik gaya Jogjakarta/ jogged Mataraman memiliki landasan sikap dan gerak yang didasari pada orientasi menyatu, berkemauan kuat, berani dan ulet, serta setia bertanggung jawab. Hakikat-hakikat tersebut kemudian dikenal dengan sawiji, greget, sengguh dan ora mingkuh. Adapun makna filosofis tersebut:

1. Sawiji
Berarti menyatukan seluruh pikiran, kemauan, dan sikap dengan seluruh kekuatan ke arah satu tujuan yang jelas untuk mendalami peran yang diambil. Seseorang yang membawakan peran Arjuna misalnya, seluruh penghayatan dan pikirannya benar-benar berkonsentrasi pada tokoh Arjuna itu sendiri, kemudian disalurkan melalui gerakan tari yang tekhniknya sudah dikuasai. Dalam arti lain sawiji juga berarti penyatuan gerak dengan irama music yang harus padu dan harmonis.

2. Greget
Greget memiliki arti semangat, seorang penari harus memiliki suatu semangat dan kemauan yang kuat. Emosi yang keluar dari semangat tersebut harus tetap terarah melalui latihan-latihan yang dilakukan oleh penari. Seorang penari sangat memerlukan greget sebab dengan semangat dan kemauan yang kuat dapat memperkuat ekspresi tokoh yang dibawakan.

3. Sengguh
Secara harafiah sengguh berarti kebanggaan pada diri sendiri, dengan kata lain sengguh juga berarti rasa percaya diri. Tapi bukan berarti seorang penari menjadi sombong, tetapi rasa percaya diri yang menumbuhkan sikap yang yakin, pasti dan tidak ragu-ragu. Sehingga dalam ekspresi gerak tidak terjadi rongeh (tidak menentu) dan welu (tdk selaras), tapi kuat dan resik (cermat).

4. Ora Mingkuh
Secara harafiah ora mingkuh berarti pantang menyerah dan ulet. Seorang penari tidak boleh lari dari tanggung jawabnya dan harus memenuhi tanggung jawab yang diterimanya.

Dalam tari klasik gaya Yogyakarta bentuk gerakan tari dibagi tiga karakter
1. Halus
• Halus luruh: Perwujudan tari yang benar-benar halus dan pelan-pelan, sederhana dan lembut. Contoh: Arjuna, Rama
• Halus mbranyak: gerakan tari yang halus tapi sedikt lebih cepat dan dinamis. Contoh: Panji gunungsari, Wibisana
2. Gagah
• Gagah lugu: gerakan tari yang gagah yang mencerminkan kekuatan dan dan sifat bersahaja dan sederhana. Contoh: Bima, Gathotkaca.
• Gagah kongas: gerakan yang menunjukan kesombongan. Aliran lebih dinamis dan banyak variasi gerakan. Contoh: Rahwana
3. Kasar
• Kasar ksatria: Meskipun gerakan kasar gerakan ini perwujudan seorang ksatria atau raja. Contoh: Beksan Lelawungan.
• Kasar Raksasa: Gerakan watak yang tidak terartur dan cepat.
Untuk tarian-tarian diluar cerita wayang, penari harus tahu tentang seperti apa karakter yang dibawakannya, sehingga dapat menggunakan referensi penghayatan dari tokoh-tokoh wayang.
Menari tari klasik gaya Yogyakarta tidak hanya belajardan mampu hafalan dan tekhnik (jogedan), tapi juga harus bisa menerapkan filosofinya dan menguasai penjiwaanya(anjoged).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar